05 October 2008

Mengapa Pria Baik-baik Selalu Kalah?

Sumber : boundless

Pernahkah Anda yang pria mempertanyakan hal ini? Teman saya, seorang pria baik-baik berusia 28 tahun yang masih lajang pernah mempertanyakannya. Seorang gadis yang disukainya pernah mengakui bahwa dia gampang jatuh hati pada pria tipe "bad boy". Gadis lain pernah menolaknya dan seminggu kemudian terlihat pergi kencan berdua dengan seorang pria yang menurutnya "bad boy".

Menurutnya, sepertinya kebanyakan kaum wanita menilai pria "baik-baik" sebagai seseorang yang tidak aman, tidak percaya diri, tidak tahu apa yang mereka lakukan jika hal itu berhubungan dengan wanita. Wanita malah mengagumi dan berkencan dengan pria tipe "bad boy" walaupun sudah jelas bahwa kebanyakan dari para pria itu hanya akan memanfaatkan dan tidak menghargai mereka. Lalu, setelah sekali para wanita itu patah hati dan dalam keadaan "rusak", mereka baru melihat kepada pria baik-baik seperti dia. Dia merasa itu semua tidak adil. Dia lelah melakukan apa yang benar, menjaga dirinya tetap layak bagi kasih sayang seorang wanita dan terus berusaha, sementara sangat mudah bagi pria-pria "bad boy" untuk bisa berhubungan dengan wanita.

Jika Anda termasuk pria yang juga berpendapat seperti teman saya, biarkan saya mengklarifikasi dulu bahwa tidak semua wanita tertarik pada pria "bad boy". Kita seharusnya tidak menyamaratakan mereka seperti itu. Banyak wanita yang tidak mau berurusan dengan pria "bad boy". Tapi meskipun demikian, sama seperti yang teman saya lihat, beberapa gadis baik-baik sepertinya tertarik pada beberapa tipe pria yang sebenarnya mereka tahu tidak baik untuk mereka. Jadi mari kita membahas penyebabnya...

Pertama, tidak penting bagaimana kebanyakan wanita memandang pria baik-baik atau pria "bad boy". Kita tidak harus menyelesaikan masalah ini dalam lingkup seluas itu. Yang penting adalah bagaimana wanita yang Anda inginkan memandang Anda untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Hanya pandangannya yang penting, biarkan wanita-wanita lainnya memikirkan apa yang mereka inginkan.

Sekarang, apa yang Anda ingin wanita ini ketahui tentang Anda? Tidak ada satupun dari wanita yang waras di bumi ini yang tidak mau "kebaikan" menjadi paling tidak salah satu dari karakter yang dimiliki oleh suaminya. Kebaikan bukanlah masalahnya, kebaikan adalah aset, bukan kewajiban. Pertanyaannya adalah, apa yang dimiliki oleh pria-pria "bad boy" yang membuat mereka tampak menarik bagi beberapa wanita yang akhirnya rela mengorbankan faktor "kebaikan" tadi?

Ada banyak alasan memang, tapi saya mempunyai petunjuk tentang alasan utama mengapa banyak wanita baik-baik tertarik pada pria "bad boy". Bukan karakter "bad"-nya yang menarik, tapi kepercayaan dirinya yang terlihat dari cara pembawaan dirinya. Mungkin semua itu menuju ke arah yang salah, atau bahkan tanpa arah, tapi ada kualitas yang sepertinya dia miliki, sebuah kualitas penting dari seorang pria, dan yang diinginkan para wanita dari pasangan mereka: kepemimpinan. Pria "bad boy" sepertinya tahu apa yang dia inginkan, bahkan meskipun itu tidak ada artinya atau merupakan hal yang salah. Dengan cara yang sedemikian rupa, tindakan-tindakan mereka sepertinya gagah berani (walaupun dalam kenyataannya mereka lebih kebalikannya), dan karena itu mereka tampak menarik.

Ketika seorang wanita mencari suami, entah dia mengatakannya dengan keras atau tidak, dia mencari seorang pria yang dia yakini dapat memimpin dirinya dan anak mereka nantinya. Ini benar dan juga alkitabiah. Para wanita tertarik pada kualitas itu dalam diri seorang pria, dan terkadang wanita Kristen tertarik kepada pria yang "salah" karena pria-pria itu sepertinya mempunyai kualitas itu. Kabar baiknya adalah, dalam ekonomi-Nya, kepemimpinan itu bisa didapatkan siapa saja. Anda tidak perlu menjadi direktur perusahaan ataupun lahir dalam keadaan kaya. Terkenal, atau memakai jaket kulit dan mengemudikan Harley. Kita menjadi pemimpin dengan mengikuti dan mentaati-Nya.

Jadi pertanyaannya adalah, apakah Anda mengikuti Tuhan dan mentaati-Nya? Apakah Anda memimpin dengan menjadi teladan (bukan hanya berkata-kata tapi juga melakukan apa yang Anda katakan)? Apakah Anda adalah seseorang yang bisa diteladani oleh orang-orang Kristen yang lebih muda? Apakah Anda tertanam dalam sebuah komunitas Kristen? Apakah Anda dengan aktif mengejar hubungan Anda dengan Tuhan, ataukah Anda dengan pasif hanya membiarkan hati Anda mengapung seperti gabus di tengah lautan, tanpa komitmen pada Kristus dan gereja-Nya? Apakah Anda antusias tentang kemana Tuhan sedang membawa Anda dan Anda tidak sabar menunggu masa depan yang penuh harapan, atau Anda hanya dengan pasif membiarkan kehidupan terjadi pada Anda?

Itulah jenis kualitas kepemimpinan yang Tuhan cari di dalam Anda dan akan Dia kembangkan di dalam Anda jika Anda mau. Memang ini bukan menjadi alasan Anda melakukannya, tapi wanita yang ingin Anda dekati juga mencari hal yang sama dalam diri Anda. Ambillah kesempatan ini untuk memeriksa hati Anda, dan tanyakanlah pada diri Anda sendiri, apakah jika Anda seorang wanita, Anda mau menghargai, menghormati dan mengikuti kepemimpinan Anda sebagai pria? Temukanlah pria yang lebih tua yang mengasihi Tuhan dan memimpin dengan melayani, dan juga mempunyai orang-orang yang mengikuti pimpinannya, mintalah dia untuk menjadi mentor Anda. Mintalah dia untuk mengajar Anda semua yang dia tahu tentang mengasihi Tuhan dan tentang kepemimpinan.

Dan ingatlah bahwa dalam kerajaan-Nya, jalan untuk naik adalah dengan turun. Pengembangan kepemimpinan dimulai dari lutut Anda, dengan meminta Tuhan untuk menjadikan Anda seorang pria yang Dia inginkan dan mentaati pimpinan-Nya. Jika Anda mendahulukan apa yang menyenangkan Tuhan, Dia berjanji akan menangani sisanya.

Apakah Soulmate Benar-Benar Ada? (2)

Sumber : Crosswalk

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas ciri-ciri perspektif tentang soulmate dan mitos-mitos serupa yang tanpa sadar telah membuat kita menipu diri kita sendiri dan menempatkan hubungan (dan hati) kita dalam resiko. Seperti tentang... bagaimana kita bisa mengenali faktor-faktor negatif dari seseorang jika dari awal kita sudah menyimpulkan bahwa dialah soulmate kita? Jika Anda membuat kesimpulan secepat itu, Anda berasumsi bahwa semua aspek yang lain tidak relevan atau akan bekerja dengan sendirinya secara ajaib.

Seseorang yang sempurna?
Kita telah mendengar banyak versi kisah, saat seseorang yang baru saja putus hubungan mempunyai gambaran tentang seseorang yang sempurna di pikirannya. Ide itu biasanya berhubungan dengan satu karakteristik, seringkali berupa karakteristik yang berlawanan dengan yang dimiliki oleh mantan pasangannya. Lalu, apakah salah untuk mewaspadai isu seperti ini, terutama jika itu menjadi masalah dalam hubungan Anda sebelumnya? Tentu saja tidak salah.

Masalahnya adalah, saat Anda begitu terfokus pada satu isu, Anda akan cenderung mengabaikan hal-hal yang lain. Karena, apakah seseorang yang Anda kencani itu mempunyai atau tidak mempunyai karakteristik tertentu yang Anda cari, bukanlah jaminan bahwa hubungan atau pernikahan Anda nantinya akan sukses. Anda masih tetap harus berusaha dan mengijinkan waktu berjalan untuk memastikan apakan dia mempunyai kualitas-kualitas yang baik dan bukannya yang buruk. Anda juga harus peka dalam mengamati perbedaan Anda dan dia. Bagaimana Anda dan dia berinteraksi dalam berbagai keadaan? Apa yang dia lakukan yang menyebabkan konflik? Bagaimana dia berperilaku jika dia berada di bawah tekanan? Untuk mengetahui semua itu, tentu saja membutuhkan waktu, pikiran yang terbuka, dan sikap yang obyektif. Ini memang terkesan dingin dan begitu perhitungan, tapi ingatlah, pernikahan adalah sekali seumur hidup, dan perceraian itu menyakitkan, mempengaruhi bukan hanya diri Anda sendiri tapi juga seluruh keluarga.

Siapkah untuk lembaran baru?
Jika Anda masih menyalahkan orang lain atau diri Anda saja untuk kegagalan dalam hubungan Anda sebelumnya, Anda perlu untuk bertahan dalam proses pemulihan dan menerima apa yang telah Anda dan dia lakukan, serta belajar untuk mengampuni. Jika dalam kondisi seperti ini Anda masih terus mencari Mr. atau Miss. Right, Anda sebenarnya belum siap untuk menjalin hubungan yang baru.

Apakah Anda berada dalam resiko?
Mencari seorang soulmate bisa jadi berbahaya. Apakah Anda...
Mempunyai "mentalitas soulmate"?
Percaya bahwa Anda akan mengenali pasangan jiwa Anda pada menit pertama Anda bertemu dengannya?
Mencari calon pasangan yang baru dengan satu kriteria utama, yang mungkin berlawanan dengan yang dimiliki mantan pasangan Anda?
Berpikir bahwa hanya ada 1 orang di dunia ini yang benar-benar tepat untuk Anda, dan Anda sedang berada dalam misi untuk menemukan dia?
Mempunyai beberapa kriteria untuk pasangan yang ideal atau formula yang mudah untuk mengetahui siapa yang akan menjadi pasangan jiwa Anda?

Berikut ini beberapa tips untuk membantu Anda menghindari jebakan mitos soulmate.

Perbarui pikiran Anda. Jika Anda mempunyai "mentalitas soulmate", didik diri Anda sendiri tentang resiko-resikonya. Satu cara untuk melakukan ini adalah membaca dan membaca ulang kisah-kisah nyata tentang mereka yang sudah lebih dari sekali bercerai, yang dengan naif mencari soulmate mereka hanya untuk pada akhirnya merasa kecewa lagi karena mereka menolak untuk melihat atau mengenali masalah apapun setelah mereka memutuskan bahwa seseorang adalah pasangan jiwa mereka.

Jangan mencari seseorang yang mirip atau berlawanan dengan mantan pasangan Anda. Menemukan pasangan yang mempunyai kesamaan latar belakang atau pengalaman bukanlah jaminan bahwa Anda berdua adalah pasangan yang tepat untuk satu sama lain. Sebaliknya juga demikian, hanya karena seseorang tidak mempunyai kebiasaan buruk atau hal-hal buruk yang dimiliki mantan Anda (misalnya, minum-minum, berteriak, boros, control freak, dan sebagainya), bukan juga berarti dia adalah orang yang tepat bagi Anda. Daftarlah masalah-masalah dari hubungan Anda sebelumnya dan pastikan bahwa itu tidak menjadi satu-satunya kriteria yang Anda gunakan untuk mencari pasangan masa depan.

Jangan mencari pasangan yang tidak sepadan. Jika Anda memilih seseorang yang mempunyai perbedaan krusial dalam iman dan kepercayaan dengan Anda, itu akan menjadi masalah besar setelah masa bulan madu berakhir. Ketika kepercayaan paling mendasar Anda bertentangan, cepat atau lambat Anda akan melihat pemisahan yang memimpin kepada akhir dari pernikahan itu sendiri. Ketidaksetujuan atas perbedaan kepercayaan mendasar ini bahkan akan semakin meruncing saat anak-anak hadir dalam keluarga Anda.

Ijinkan lebih banyak waktu untuk berkencan. Keputusan yang cepat tentang seorang pasangan jiwa bisa diatasi jika Anda berkencan dengan seseorang untuk saling mengenal lebih dalam paling tidak selama beberapa tahun sebelum menikah. Waspada dan kenalilah masalah-masalah yang muncul dan juga hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai "lampu merah".

Apakah Soulmate Benar-Benar Ada? (1)

Sumber : Crosswalk

"Pernikahan yang baik bukanlah saat 2 orang yang sempurna tinggal bersama, tapi saat 2 orang yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka." -Dave Meurer.

Sayangnya, banyak orang mempunyai kriteria yang aneh dalam memutuskan siapa yang akan mereka nikahi. Mereka mempunyai beberapa kriteria karakter tentang Mr. atau Miss. Right. berapa sering Anda mendengar seseorang berkata, "Aku menikah karena aku telah menemukan pasangan jiwaku"?

Dia mengenal kepribadianku
Meskipun tidak pernah didefinisikan secara resmi dalam buku manapun, istilah "soulmate" digunakan oleh banyak orang seolah-olah kita semua memiliki pengertian yang sama. Beberapa definisi dari "soulmate" adalah seseorang yang...
Mempunyai latar belakang yang sama dengan Anda.
Berpikir seperti Anda.
Mengerti tentang Anda.
Mengenal Anda bahkan sebelum dia benar-benar mengenali Anda.
Mengenal Anda lebih baik daripada Anda sendiri.
Anda sudah bisa berbicara panjang lebar dengannya bahkan saat pertemuan pertama.
Mempunyai ketertarikan dan hobi yang sama dengan Anda.

Yang lain mengatakan bahwa "soulmate" itu...
Dapat melihat sampai ke hati Anda yang paling dalam.
Seperti setengah dari bagian diri Anda.
Pasangan yang sangat cocok untuk Anda.
Seperti kembaran Anda atau lawan Anda.
Adalah satu-satunya pasangan yang paling tepat untuk Anda.
Dengan cepat bisa terhubung dengan Anda.

Jika Anda berpikir bahwa hanya ada 1 orang di luar sana yang benar-benar tepat bagi Anda, Anda akan lebih tergoda untuk cepat-cepat menikah saat Anda mengira Anda telah menemukan orang itu. Ada banyak bukti bahwa kenyataannya ada beberapa orang di dunia ini yang dapat menjadi pasangan yang tepat bagi Anda. Resiko dari berpikir sebaliknya adalah, saat Anda yakin Anda telah menemukan sang pasangan jiwa, Anda mengabaikan semua kepekaan dan akal sehat, serta termotivasi untuk segera menikahi orang itu. Beberapa orang percaya akan adanya pasangan jiwa karena pengalaman masa lalu mereka, "Hubunganku dengan mantanku tidak berhasil karena dia bukan soulmate-ku... sekarang aku akan berusaha menemukan pasangan jiwaku yang sesungguhnya..."

Karena Anda percaya bahwa ada yang namanya pasangan jiwa di dalam "dunia" Anda, Anda mempunyai beberapa dugaan dalam pikiran Anda. Beberapa orang mencari lawan jenis yang mirip dengan mereka. Yang lain percaya bahwa seseorang itu adalah pasangan jiwanya jika si lawan jenis mempunyai kesamaan latar belakang, pemikiran, dan sudut pandang. Yang lain lagi masih percaya bahwa mereka akan secara intuitif mengenali pasangan jiwa mereka melalui "ketersambungan" mereka dengan lawan jenis mereka. Kenyataannya, mempunyai banyak kesamaan atau kemiripan memang sangat relevan dalam sebuah pernikahan yang sukses. Namun masalahnya muncul ketika Anda menjalankan misi untuk menemukan seseorang yang mempunyai satu atau beberapa kemiripan atau karakter tertentu, dan Anda menganggapnya sebagai tanda untuk menikah.

Berusaha menemukan pasangan yang tepat adalah permulaan yang bagus, tapi seseorang itu mempunyai banyak sisi. Anda tidak bisa menilai seseorang itu tepat untuk Anda hanya karena dia mempunyai beberapa kesamaan atau kelihatannya begitu "tersambung" dengan Anda. Anda membutuhkan waktu untuk mempelajari dan mengenali semua aspek lainnya, seperti perbedaan-perbedaan di antara Anda, kebiasaan dan keunikan yang dimilikinya, nilai-nilai hidupnya, mimpi dan tujuannya, pendapatnya, kecocokannya dengan Anda dalam area-area tertentu, dan lain-lain. Jangan terjatuh dalam jebakan "mentalitas soulmate" dan mengira bahwa seseorang adalah pasangan jiwa Anda hanya berdasarkan kesan-kesan semata.

Pandangan bahwa dua orang yang hanya mempunyai setengah (masing-masing belum utuh) akan menjadi utuh setelah mereka bersatu, juga banyak menipu orang. Bayangkan saja seperti 2 gelas yang masing-masing hanya berisi air setengahnya. Untuk membuat 1 gelas penuh, 1 gelas lainnya harus menjadi kosong. Mereka tidak menjadi utuh. Hanya 2 orang yang utuh-lah yang akan tetap utuh saat mereka bersatu. "Utuh" di sini dapat meliputi: sehat secara mental, sudah menutup lembaran hubungan sebelumnya dan siap membuka lembaran baru, sudah pulih dari luka-luka batin masa lalu dan masalah emosional yang berat, dan lainnya. Intinya, seseorang yang utuh mengetahui siapa dirinya di dalam Kristus, mengetahui bahwa dia ada di dunia ini untuk suatu tujuan, dan menempatkan Tuhan sebagai Sumber utama dalam hidupnya.

Lagipula, bagaimana kita bisa mengenali faktor-faktor negatif dari dia jika dari awal kita sudah menyimpulkan bahwa dialah soulmate kita? Jika Anda membuat kesimpulan secepat itu, Anda berasumsi bahwa semua aspek yang lain tidak relevan atau akan bekerja dengan sendirinya secara ajaib. Lalu, bagaimana caranya menguji apakah kita sudah siap untuk membuka lembaran baru dan apakah kita berada dalam resiko untuk terjebak dalam "mentalitas soulmate" ini? Apa saja tips untuk menghindari jebakan "mentalitas soulmate"?