25 May 2008


Apakah Anda Siap Untuk Cinta?

Ada banyak cerita dan gurauan tentang cinta dan relationship, seperti semua email yang mungkin telah Anda terima. Mengapa? Karena kita diciptakan tidak untuk menjadi sendirian, tapi untuk menjadi penolong bagi satu sama lain - dan karena kita adalah manusia yang telah jatuh dalam dosa, kita memiliki masalah-masalah dalam hubungan yang sepertinya tidak ada akhirnya. Pria dan wanita, tidak diciptakan untuk berdiri sendiri-sendiri.Ada sesuatu yang dibuat Tuhan di dalam diri kita yang mengatakan, "Aku mau berbagi kehidupan dengan seseorang. Aku ingin keintiman." Dan Tuhan berkata tidak baik jika kita sendirian.

Kelihatannya kita selalu siap untuk jatuh cinta. Kita baru saja keluar dari satu hubungan, berpikir bahwa kita akan mengambil jeda dahulu, dan hanya setelah 3 minggu (atau mungkin 3 menit?) Kita sudah siap untuk hubungan yang baru. Ahkan walaupun kita mempunyai tekad yang kuat untuk tetap berada di luar suatu hubungan, kita masih memikirkan tentang hubungan. Kita memperhatikan siapa yang telah menikah, siapa yang sedang berpacaran, dan tidak dapat menahan diri untuk membayangkan apa yang akan terjadi dengan kita karena kita belum mempunyai suatu hubungan yang tepat.

Cinta seringkali membuat kita senang, melemahkan pikiran kita, merebut waktu kita. Rasa cinta yang meluap-luap membuat kita menjadi berbeda dari diri kita sendiri. Kita berperilaku berbeda dan mempermalukan diri kita sendiri. Di dalam hati kita, kita bertanya-tanya apakah ada seseorang yang akan benar-benar mencintai kita. Tampaknya kita mempunyai keinginan alamiah untuk bersatu.

Saya kembali menjadi lajang setelah satu hubungan serius yang berakhir. Saya yakin saya sudah siap untuk cinta. Saya pikir saya sudah siap untuk cinta, pada kenyataannya saya tidak mau hidup sendirian, dan ingin seseorang untuk membuat saya merasa dicintai. Apakah Anda benar-benar siap untuk cinta? Saya akan menolong Anda menjawab pertanyaan itu dalam artikel ini. Mengatakan bahwa Anda siap, berpikir bahwa Anda siap, dan benar-benar sudah siap, seringkali adalah 3 hal yang sangat berbeda.

Apa yang disebut sebagai cinta yang romantis? Scott Peck, dari bukunya "The Road Less Traveled", mengartikannya sebagai hasrat untuk memberikan diri sendiri bagi kesejahteraan orang lain. Rasul Paulus mengatakan bahwa kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cemburu, dan tidak memegahkan diri. Kasih yang sejati tidak egois (1 Korintus 13).

Cinta yang romantis adalah hubungan spiritual-emosional-seksual yang bergairah antara 2 orang yang merefleksikan penghargaan tinggi terhadap nilai satu sama lain. Jika jatuh cinta membuat Anda merasa sakit, bagaimanapun juga Anda mungkin menyimpulkan bahwa memutuskan diri, membuat jarak, dan tidak peduli pada orang lain adalah cara yang paling aman. Tapi, jika cinta yang romantis dapat mengeluarkan yang terburuk dari kita (sikap-sikap irasional, ketergantungan, dan kekanakan yang kita kira telah kita tinggalkan begitu lama), itu juga bisa mengeluarkan yang terbaik dari kita.

Perhatikan apa yang dikatakan Ethel Person tentang cinta:
"Cinta romantis, yang dialami secara subyektif, adalah sebuah emosi dengan intensitas yang luar biasa. Pengalaman cinta dapat membuat waktu seolah-olah berhenti. Cinta dapat memberikan perasaan yang mendalam pada diri sendiri, mungkin dapat dikatakan mengembangkan dan mengubah diri sendiri." Seorang yang lain mengatakan, Anda jatuh cinta, bertambah dewasa, dan hidup bahagia selamanya. Hubungan yang sehat dan saling mencintai mempunyai kapasitas untuk meningkatkan kita menjadi orang-orang yang lebih baik.

Tapi berhati-hatilah. Ada versi cinta yang salah yang menyebabkan ketergantungan yang berlebihan dan keinginan untuk segera (terburu-buru untuk) bersatu. Dalam kasus ini, perasaan cinta tidak menuju kepada mengembangkan dan mengubah diri sendiri, tapi kepada penyimpangan dan mempersempit diri sendiri. Perbedaannya, cinta yang benar membuat kita berkembang sementara kecanduan cinta atau ketergantungan yang berlebihan membuat kita semakin berkurang. Karena itu, kita harus memeriksa diri kita sendiri untuk memastikan bahwa kita sudah siap untuk cinta. Kita harus melepaskan ketergantungan yang bersifat kekanak-kanakan yang sempit dan berharap terlalu banyak, dan menuju ke arah hubungan dewasa yang mengembangkan kita dan orang lain. Kita juga harus siap meresikokan hati kita (lagi) untuk cinta.

Anda sedang mengalami yang mana? Apakah Anda semakin berkembang atau semakin terbatas dalam hubungan Anda? Apakah Anda mencari jalan untuk berhubungan dibanding bersembunyi? Apakah Anda siap untuk mengembangkan diri Anda untuk orang lain? Jika Anda siap untuk menyerahkan hak Anda (untuk menjadi benar) tentang kemana seharusnya arah tissue toilet keluar dari tempatnya, Anda mungkin sudah siap untuk cinta. Jika Anda bisa melepaskan keinginan Anda untuk menjadi pemenang dalam argumentasi tentang keinginan akan hal-hal yang tidak mempunyai konsekuensi penting (yang umumnya tidak bisa dihindari), Anda mungkin sudah siap untuk cinta.

Sumber. Jawaban.com

22 May 2008

Sepi... Dan Terhilang ...

Merajut cinta putih bukanlah hal yang mudah ...
Cinta yang indah tidak seperti membalik telapak tangan ...
Kepercayaan dan sikap jujur yang diharapkan tak pernah ada ...
Hal yang terindah yang pernah aku harapkan mulai pupus ...
Bayangan wajahnya kini tak lagi seindah dulu ...
Apakah hal ini akan kembali??
Apakah indahnya cinta yang pernah ada itu akan hadir kembali??
Pikiranku sudah mulai menumpul saat ini ...
Tak mampu lagi berpikir tentang cinta yang indah ...
Dalam hening aku bergumul menahan perihnya asmara ...

Sepi ...
Sendiri ...
Tanpa cinta ...

Kuingin ulangi rajutan cinta putih ini ...
Namun hati kecilku seakan berkata 'tak mungkin'
Apakah yang terjadi hingga semua ini tak mungkin?
Dia begitu indah ...
Sedangkan aku ...
Aku bukanlah siapa siapa ...


Hemmm.... Desahku terdengar ...
Kosong ...
Hampa ...
Sunyi ...
Sepi ...

Akankah cinta putih ini kembali terajut??
Aku hanya berharap ...
Datang seorang Bidadari Surga temani jiwa yang merana ...

By. Johkie Jonathan Huang

21 May 2008


Waktu Sempurnanya Tuhan
Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." (Kejadian 29:18)

Pernahkah kamu menemui seseorang dalam suatu pertemuan dan sesuatu percikan terbang saat itu? Kamu memperhatikan bukan hanya warna mata orang itu namun juga kilauan di matanya yang tampaknya mengundang kamu untuk mengeksplorasi orang itu lebih dalam lagi. Itulah yang terjadi antara Yakub dan Rahel. Kejadian 29:17 mengatakan bahwa Rahel begitu menawan dalam penampilan dan juga cantik. Yakub jatuh cinta begitu dalam pada Rahel hingga ia bersedia bekerja buat ayah sang gadis selama tujuh tahun hanya untuk menikahinya.

Jika kamu dihadapkan pada situasi Yakub, maukah anda bekerja selama tujuh tahun untuk seorang yang kamu cintai? Coba pikirkan kembali apa yang kamu kerjakan tujuh tahun yang lalu. Apakah kamu bekerja pada pekerjaan yang sama seperti pekerjaan kamu saat ini? Menghadiri gereja yang sama? Berkumpul dengan orang yang sama?. Kehidupan kita berubah banyak selama tujuh tahun terakhir, bukankah begitu?

Bayangkan apa yang Rahel harus rasakan. Dia menemukan pria yang dia ingin nikahi dan kemudian harus sering berada disekelilingnya sepanjang tujuh tahun berikutnya tanpa bisa menikahinya. Dia pasti berjuang dengan kesangsian tentang apakah mereka akan menikah. Kemudian, ketika waktu akhirnya datang, dia mungkin saja mengalami kehancuran ketika menemukan bahwa ayahnya telah menipu pria yang dicintainya dengan menikahkan pria idamannya pada saudara perempuannya sendiri, Lea.

Apa yang Rahel mungkin tidak mengerti pada saat itu adalah bahwa Tuhan pada akhirnya membawa Juruselamat pada dunia melalui darah keturunan antara Yakub dan Lea. Yesus adalah keturunan dari pernikahan yang didasarkan atas kebohongan - paling tidak pada tingkatan yang mendunia - namun Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Rahel pada akhirnya menikahi Yakub dalam waktu terbaiknya Tuhan.

Tuhan mengarang peristiwa dalam kehidupan kita untuk menyajikan kemuliaanNya. Seperti halnya Rahel, kita tidak tahu waktu Tuhan untuk masa depan kita, namun kita dapat mempercayai bahwa seperti halnya Tuhan tahu apa yang sedang Dia kerjakan untuk Rahel, Dia juga tahu apa yang Dia kerjakan bagi hidup kita.

Menggali Lebih Dalam Kejadian 29:18

1. Apakah kamu pernah jatuh cinta pada seseorang hanya saja Tuhan mengatakan padamu untuk menunggu pernikahan?
2. Pernahkah kamu menanyakan tentang waktuNya Tuhan? Jelaskan...
3. Apa yang kamu lakukan selama periode penantian?
4. Pernahkah kamu berpikir tentang gambaran besarnya? Bahwa Tuhan sedang bekerja mengarang peristiwa dalam kehidupan kamu untuk kemuliaanNya? Atau anda justru lebih terfokus pada diri sendiri? Jelaskan...
5. Bagaimana ayat ini bisa mengubah jalan hidup kamu dalam menangani hubungan di masa depan jika Tuhan mengatakan pada kamu untuk menunggu pernikahan?

Sumber. Jawaban.com